Home / Headline / Wartawan Sumut Mari Bersatu Lindungi Kebebasan Pers Sesuai UU No.40-1999

Wartawan Sumut Mari Bersatu Lindungi Kebebasan Pers Sesuai UU No.40-1999

Wartawan Sumut Mari Bersatu Lindungi Kebebasan Pers Sesuai UU No.40-1999(k/ft)

Sumatera Utara, Srikandinews.com.Di tengah dunia jurnalistik yang senantiasa mengusung nilai kebenaran dan keadilan, muncul sebuah pertanyaan yang menyentuh hati: di mana rasa kebersamaan dan solidaritas sesama wartawan ketika salah satu rekannya sedang menghadapi ujian yang berat.

Leo Sembiring atau yang juga dikenal sebagai Leo Depari bukanlah sosok asing di kalangan insan pers Kota Medan Sumatera Utara, Mantan wartawan Posmetro Medan yang kini menjabat Pemimpin Redaksi Media Online Fradvy Indonesia ini dikenal sebagai pribadi yang berani mengangkat berbagai persoalan masyarakat, serta kerap menyampaikan informasi terkait dugaan penyimpangan yang terjadi di lingkungan sekitar.

Namun saat ini, orang yang selama ini sering menuliskan kisah perjuangan orang lain, justru kini sedang menghadapi tantangan dalam hidupnya sendiri

Berdasarkan keterangan yang disampaikan pihak keluarga Leo, peristiwa ini bermula ketika usaha toko ponsel milik mereka menjadi korban pencurian. Diduga, dua orang tenaga kerja yang baru dipekerjakan sekira dua minggu telah membongkar brankas dan membawa sejumlah barang serta modal usaha.

Alih-alih mendapatkan kepastian dan perlindungan hukum selayaknya korban, keluarga justru merasakan proses hukum yang berujung pada penetapan status salahsatu anggota keluarga sebagai tersangka, serta Leo Sembiring tercantum dalam Daftar Pencarian Orang (DPO).

Pihak keluarga menduga bahwa perkembangan kasus ini berkaitan erat dengan aktivitas jurnalistik Leo yang selama ini aktif memberitakan berbagai permasalahan dan mengkritisi kinerja aparat diwilayah Kecamatan Pancur Batu. Perlu ditegaskan bahwa dugaan ini merupakan pandangan dari pihak keluarga, dan belum dapat dibuktikan kebenarannya melalui proses hukum yang sedang berjalan.

Yang terasa sangat menyayat hati bukan hanya soal perkara hukumnya saja. Di balik itu, ada seorang istri yang setiap hari berusaha menjawab pertanyaan polos anak-anaknya. Ada anak-anak yang masih duduk di bangku sekolah dasar, yang menurut keterangan keluarga, harus menerima cemoohan dari teman-temannya karena mendengar kabar bahwa ayahnya tercatat dalam daftar pencarian. Ada keluarga yang setiap harinya hidup dalam suasana cemas, bingung, dan penuh ketidakpastian.

Hal yang menjadi sorotan banyak pihak adalah, di tengah kondisi yang demikian, suara dukungan dan kepedulian dari sesama insan pers di Kota Medan terasa belum banyak terdengar.

Padahal, selama bertahun-tahun Leo dikenal sebagai sosok yang tidak segan membantu masyarakat biasa ketika menghadapi kesulitan hukum. Ia sering hadir meliput aspirasi warga, menyuarakan keluhan mereka, dan menuliskan pemberitaan yang dianggap mewakili suara mereka yang kurang memiliki akses.

Kini, ketika ia dan keluarganya merasa sedang menghadapi ujian berat, muncul pertanyaan yang mengusik hati: Apakah seorang wartawan harus berjuang sendirian ketika dirinya sendiri membutuhkan dukungan. Tentu saja, tidak ada seorangpun yang kebal dari proses hukum. Setiap warga negara memiliki kedudukan yang sama di mata hukum, dan wajib menghormati setiap tahapan yang berlaku.

Namun, apabila terdapat kekhawatiran akan adanya ketidakadilan atau penyimpangan prosedur sebagaimana yang disampaikan pihak keluarga, maka sudah selayaknya hal ini mendapat perhatian dan pengawasan dari pihak yang berwenang. Tujuannya agar proses hukum berjalan secara profesional, objektif, terbuka, dan sesuai dengan prinsip keadilan bagi semua pihak.

Tulisan ini tidak bermaksud menghakimi siapa pun, juga tidak ingin memutuskan kebenaran atau kesalahan sebelum ada putusan hukum yang bersifat tetap, hanyalah sebuah pengingat sederhana di balik setiap perkara, ada manusia yang sedang berjuang, ada keluarga yang menanggung beban, ada istri yang gelisah, ada anak-anak yang merasa tertekan oleh keadaan. Ada seorang wartawan yang dulu memperjuangkan suara orang lain, dan kini sedang berusaha memperjuangkan nasib keluarganya sendiri.

Mungkin yang dibutuhkan saat ini bukan sekadar keberanian untuk menulis berita. Melainkan keberanian untuk menunjukkan rasa peduli, empati, dan kebersamaan kepada sesama.Karena siapa pun tidak tahu, suatu hari nanti bisa jadi kita yang berada di posisi yang sama, berharap ada uluran tangan dan kalimat yang menenangkan: “Kamu tidak berjuang sendirian.” (tim)

Share this:

About srikaninews

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *