
Tanjungpinang – Srikandinews.com. Posisi geografis Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) khususnya di Kota Tanjungpinang dan Kabupaten Bintan beberapa hari ini mengalami cuaca ekstrem.
Hal tersebut membuat Kepala Statiun Met. Kelas III Raja Haji Fisabilillah (RHF) Tanjungpinang Yohanes Bintoro menjabarkan jika dianalisis berdasarkan arus angin wilayah Pulau Bintan berada pada posisi konvergensi sebagai titik pertemuan angin.
“Kami sampaikan latar belakang cuaca di Pulau Bintan khususnya di bulan September berada pada kondisi basah, sedangkan pada bulan Februari adalah kondisi paling kering,” ujarnya. Kamis, (02/08/2021).
Kemudian pada bulan April, Mei, hingga Juli masih dalam keadaan basah, selanjutnya pada bulan Agustus di bagian timur laut terdapat beberapa bagian yang kering.
“Tipe iklim di Tanjungpinang dan Pulau Bintan terjadi puncak hujan jadi tidak jelas batasnya antara musim kemarau dan musim penghujan,” urainya.
Yohanes kembali menyelaraskan bahwa faktor utama yang berpengaruh selain pertemuan angin tersebut karena sebagian besar wilayah ini di kelilingi laut. Meski demikian Ia memastikan bahwa perairan Tanjungpinang dan Bintan masih aman untuk nelayan beroperasi.
“Yang harus di waspadai adalah Ranai Tarempa karena imbas dari laut cina selatan, kalau untuk Tanjungpinang masih relatif aman hingga seminggu kedepan bagi nelayan, tongkang maupun ferry untuk beroperasi,” tutupnya.(OYO).
Srikandinews media online