Home / Cirebon / Keraton Kasepuhan Cirebon Saksi Agung Sejarah Budaya Warisan Leluhur yang Lestari dan Indah

Keraton Kasepuhan Cirebon Saksi Agung Sejarah Budaya Warisan Leluhur yang Lestari dan Indah

Keraton Kasepuhan Cirebon Saksi Agung Sejarah Budaya Warisan Leluhur yang Lestari dan Indah(k/ft)

 

Cirebon Jabar – Srikandinews.com Keraton Kasepuhan berdiri megah sebagai saksi sejarah tertua dan paling berharga dari perjalanan panjang Kesultanan Cirebon. Bukan sekadar bangunan bersejarah, istana ini merupakan pusat pelestarian budaya, arsitektur, serta nilai-nilai luhur peradaban leluhur yang terjaga utuh hingga masa kini.

Jejak Berdirinya Keraton Kasepuhan

Kompleks agung ini tumbuh dari akar sejarah yang kuat: Dalem Agung Pakungwati mula-mula dibangun sekitar tahun 1430 oleh Pangeran Cakrabuana. Kemudian pada tahun 1529 M, berdiri pusat Keraton Pakungwati yang dikembangkan oleh Pangeran Mas Zainul Arifin. Nama tersebut diambil dari sosok Ratu Dewi Pakungwati, putri mulia yang mendampingi Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah — penyebar Islam yang dikenal berwibawa, penuh kasih, dan membawa kedamaian bagi tanah Jawa.

Setelah masa kepemimpinan berjalan, nama “Kasepuhan” mengukuhkan kedudukannya: berarti “yang paling tua atau yang dituakan”, menegaskan posisinya sebagai pusat utama kerajaan, terutama setelah terbentuknya cabang Keraton Kanoman pada tahun 1679. Bangunan ini menjadi bukti pertemuan harmoni gaya arsitektur yang luar biasa: menyatukan unsur budaya Sunda, Jawa, Islam, Tionghoa hingga Eropa — cerminan keterbukaan dan kearifan zaman itu.

Mahakarya Kereta Singa Barong

Di antara segala kekayaan yang tersimpan, karya yang paling menonjol adalah Kereta Singa Barong. Dibangun tahun 1549 M di bawah pimpinan Panembahan Losari dengan pemahat ulung Ki Nata Guna. Terbuat dari kayu laban pilihan yang dilapisi cat istimewa bercampur serbuk emas dan intan, bentuknya sangat unik: berkepala naga, berbelalai gajah, bersayap, dan wujud tubuh yang indah melambangkan persatuan berbagai peradaban dunia. Teknologi pembuatannya pun canggih: memiliki sistem roda dan kemudi yang teratur, ditarik oleh empat ekor kerbau albino atau kebo bule, dan dulunya digunakan dalam kirab agung setiap 1 Muharram.

Pusaka Keramat Penuh Sejarah

Ruang penyimpanan dan museum keraton menyimpan benda-benda bersejarah yang tak ternilai harganya:

– Keris Sang Hyang Naga (Kantanaga) — peninggalan pribadi Sunan Gunung Jati, benda yang disakralkan dengan kisah keagungan yang mendalam

– Keris Naga Sasra — senjata pusaka kerajaan yang melambangkan kekuatan perlindungan

– Kendaraan adat: Tandu Jempana untuk permaisuri dan putra mahkota, serta Tandu Garuda Mina untuk upacara keluarga kerajaan

– Lengkap pula dengan tombak, gada, payung keropak, gamelan kuno, naskah silsilah, keramik kuno, meriam, dan perhiasan yang semuanya terawat rapi.

Terbuka Luas untuk Pelestarian dan Wisata

Keagungan Keraton Kasepuhan serta keraton lain di wilayah Cirebon bukanlah peninggalan tertutup. Ini adalah harta milik bangsa Indonesia yang harus kita kenal, dalami, dan pertahankan. Bagi siapa saja yang ingin mengenal budaya lebih dekat, berziarah atau nyekar ke makam mulia Sunan Gunung Jati, serta mendalami nilai agama dan kebudayaan lewat pengajian, tempat ini terbuka lebar.

Demi menjaga kelestarian bangunan dan pelayanan yang layak, sekaligus tetap terjangkau bagi semua kalangan:

-Pelajar dan Anak Sekolah: Mulai dari Rp5.000,-

-Umum: Mulai dari Rp10.000 hingga Rp20.000,-

Mari sambut warisan ini dengan hati terbuka. Datanglah ke Cirebon, Jawa Barat, kenali lebih dekat pesona Keraton Kasepuhan dan keraton lainnya. Kunjungan kita bukan hanya perjalanan wisata, melainkan dukungan nyata agar akar budaya bangsa senantiasa tetap hidup, lestari, dan bermanfaat bagi generasi mendatang.

(Red)

Share this:

About srikaninews

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *