Home / Gunungsitoli / Jelang Pemilu 2024, Warga Berlomba-Lomba Cari Caleg Sebab Dianggap Ladang Rezeki

Jelang Pemilu 2024, Warga Berlomba-Lomba Cari Caleg Sebab Dianggap Ladang Rezeki

Gunungsitoli – Srikandinews.Com. Warga seolah berlomba-lomba mencari calon legislatif sebelum mendekati pemilihan. Pasalnya, mereka menganggap sebagai salah satu ladang rezeki sekali dalam 5 (Lima) tahun dengan menyapa caleg dengan istilah NPWP.

Artinya Nomor Piro Wani Piro (nomor urut berapa, berani bayar berapa). Hal ini disampaikan seorang warga berinisial HW dengan Sapaan Ama Siska Waruwu kepada wartawan. Kamis (08/02/2024).

Ia menceritakan pengalamannya pada pemilu tahun 2019 yang lalu bahwa pada malam pencoblosan menerima uang Rp 200.000 dari salah satu tim sukses caleg di tingkat DPRD Kabupaten/Kota dan besok paginya menjelang coblosan, caleg lain membilas jejak dengan uang Rp300.000,- per orang.

“Terpaksalah suara caleg yang menabur Rp200.000 per orang itu lenyap bagai ditelan bumi. Kan itu rezekilah bagi kami, “Ungkapnya sambil ketawa.

Ama Siska menuturkan bahwa selama ini ada banyak tim sukses para caleg dengan berbagai variasi tawaran kucuran uang tunai menjelang pencoblosan.

“Dicoblos atau tidak itu urusan belakangan karena kami sebagai warga hanya menerima jika diberi dan tidak meminta yang penting pada saat memilih, saya mengutamakan tawaran dari caleg yang saya kenal terlebih dahulu, “tuturnya.

Ditempat berbeda, Yamoni Laoli berpendapat, sejumlah faktor membuat bagi-bagi uang untuk pemenangan caleg dinilai lumrah dan sudah menjadi wilayah pasar yang menyangkut penawaran yang sulit dihindari sehingga ibarat lingkaran setan yang sulit diurai.

‚ÄĚPendekatan yang paling diingat itu, pendekatan langsung dan pendekatan yang sifatnya materi sehingga menjadi jalan paling mudah untuk merebut perhatian pemilih, “ujar Yamoni.

Di sisi lain, ia berpandangan, saat ini lebih baik warga menganggap uang sebanyak apa pun dari siapa pun sebagai pemberian cuma-cuma, tidak perlu merasa utang budi di TPS.

Oleh karena itu, jangan heran ketika para celeg ingin lolos di Parlemen walupun tak punya basis massa, tapi berkantong tebal. Ibarat perang dan caleg itu sudah tahu kelemahan rakyat dari wilayah mana harus diserang.

“Para caleg tak perlu susah payah kampanye untuk meyakinkan rakyat dengan program dan integritas caleg karena rakyat di bawah bisa ditaklukkan dengan uang dan alangkah baiknya warga mencoblos caleg sesuai kata hati nurani masing-masing, bukan berdasarkan materi yang sudah diterima biar jadi hukuman bagi pemberi, “Imbaunya.

Ia mencotohkan, seorang anggota DPR RI butuh suara paling sedikit 60.000 atau 80.000 suara atau bahkan 100.000 suara, baik sendirian maupun secara kolektif bersama suara partai dan caleg lain separtai. Nah, jika caleg butuh 60.000 suara saja maka kita kalikan Rp 20.000,- yang berarti Rp 1.200.000.000.

Berarti untuk jadi anggota DPR RI butuh dana serangan fajar Rp 1.200.000.000. Ini belum termasuk dana sosialisasi, konsolidasi, operasional tim sukses, souvenir, amplop untuk orang-orang berpengaruh yang harus disowani, dan seterusnya.

“Sangat mustahil bisa segera mengembalikan modal itu hanya dengan cara mengandalkan gaji resmi bulanan yang jumlahnya tak akan mencukupi meski menjabat selama 5 tahun, “Pungkasnya.

(Red)

Share this:

About srikaninews

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *