
Deli Serdang,Srikandinews.com – Di tengah upaya perbaikan penyaluran bantuan beras bagi warga Desa Pagar Merbau 3, terungkap gambaran pelayanan yang masih rapuh dan realitas hidup rakyat kecil yang memilukan. Meskipun kekurangan hak beras masing‑masing 10 kg bagi sembilan keluarga telah diputuskan untuk diserahkan, prosesnya masih menampakkan kelemahan administrasi serta kendala kemanusiaan yang sangat nyata dan patut didengar dengan hati yang terbuka.
Salah satu warga penerima berinisial JK menyampaikan fakta penting yang tidak boleh diabaikan: Pemberitahuan yang disampaikan oleh Kepala Dusun setempat tidak tertulis, tidak resmi, dan hanya berupa pesan lisan semata. Tidak ada surat, tidak ada undangan yang jelas, tidak ada bukti tertulis yang menjadi pegangan pasti bagi warga. Hal ini sangat lemah, mudah menimbulkan salah paham, dan tidak selayaknya menjadi tata cara pelayanan negara yang seharusnya rapi dan dapat dipertanggungjawabkan.
Di samping kelemahan prosedur tersebut, terdapat duka batin yang mendalam: Penerima bantuan ini saat ini berada dalam kondisi kesehatan yang sangat menurun, sakit berat, dan fisiknya tidak lagi berdaya untuk menempuh perjalanan. Ketika berusaha menumpukan harapan kepada anak kandungnya, pun menemui dinding kenyataan yang berat
Anak tersebut baru diterima bekerja beberapa bulan yang lalu, masih berstatus baru dalam perjuangan mencari nafkah. Ia sudah pernah meminjam izin sebelumnya; jika harus kembali meminta izin kerja, ketakutan besar melanda hati keluarga: Takut dianggap tidak disiplin, takut posisinya terancam, bahkan takut hubungan kerjanya tidak diperpanjang atau diputus begitu saja.
Ini bukanlah sikap menolak bantuan, bukan pula kelalaian! Ini adalah rasa takut yang wajar namun pahit, lahir dari keterbatasan posisi hidup yang sedang rentan dan penuh perjuangan. Mereka tidak berani mengambil risiko kehilangan mata pencaharian demi satu kali pengambilan beras yang seharusnya sudah berjalan lancar sejak awal.
Dengan kerendahan hati yang tulus, keluarga tersebut menyampaikan: Kami berserah diri sepenuhnya kepada Allah SWT serta kebijaksanaan luhur Pemerintah Kecamatan dan Pemerintah Desa. Jika tubuh tidak sedang sakit dan lemah, tentu mereka akan hadir tanpa diminta. Jika harus berurusan dengan hari kerja, bayang‑bayang kehilangan nafkah itu terasa terlalu berat untuk ditanggung.
Oleh karena itu, harapan yang sangat sederhana namun penuh makna tercurah: Kiranya Pemerintah dapat melayani penyerahan hak tersebut pada hari libur atau hari Minggu. Saat itulah anaknya benar‑benar bebas dari kewajiban kerja, dapat datang dengan tenang tanpa rasa cemas yang menggelisahkan, dan menerima hak yang seharusnya suci itu tanpa beban batin berlebihan.
Kisah ini menjadi pelajaran berharga: Pelayanan publik yang baik bukan hanya barangnya ada, tetapi juga informasinya jelas dan tertulis, serta memanusiakan manusia yang lemah fisiknya maupun yang sedang berjuang mempertahankan hidup. Semoga keadilan dan kelembutan hati penyelenggara negara hadir bagi mereka yang paling membutuhkan perlindungan.
(Syahrul Anwar)
Srikandinews media online