Home / Jawa Timur / Kematian Afifah Penuh Tanda Tanya, Keluarga Minta APH Usut Kebenaran

Kematian Afifah Penuh Tanda Tanya, Keluarga Minta APH Usut Kebenaran

Jember, Jatim – Srikandinews.com. Kematian Afifah, seorang perempuan yang disebut tengah mengandung sekitar lima hingga enam bulan, menyisakan duka mendalam sekaligus tanda tanya besar bagi keluarga. Sang kakek yang tidak ingin disebutkan namanya mengaku tidak menerima begitu saja kepergian cucu kesayangannya tersebut. Keluarga meminta Aparat Penegak Hukum (APH) mengusut secara menyeluruh dugaan kematian tidak wajar yang menimpa Afifah dan mengungkap apa yang sebenarnya terjadi.

Berdasarkan keterangan yang disampaikan Keluarga dan sejumlah Saksi, pada Minggu, 9 Agustus 2026 sekira pukul 10.00 WIB, Afifah disebut sedang bersama suaminya, Andre, mengendarai sebuah mobil.

Dalam perjalanan tersebut, Afifah dikabarkan tiba-tiba melompat dari kendaraan hingga mengalami luka serius. Korban kemudian dibawa ke Puskesmas dalam kondisi kritis sebelum akhirnya dirujuk ke Rumah Sakit dr. Soebandi Jember untuk mendapatkan penanganan medis lebih lanjut. Namun, hingga kini keluarga mempertanyakan secara rinci bagaimana peristiwa tersebut sebenarnya terjadi.

Persoalan semakin menjadi perhatian karena adanya perbedaan keterangan mengenai lokasi kejadian. Menurut keterangan yang diterima keluarga, Andre sempat menyebut Afifah melompat dari mobil di wilayah Mayang. Ketika kembali ditanyakan oleh pihak keluarga, lokasi tersebut berubah menjadi wilayah Pakusari. Dalam keterangan berikutnya, lokasi kejadian kembali disebut berada di Sumberjeruk, Kecamatan Kalisat. Tiga lokasi berbeda dalam cerita mengenai satu peristiwa dinilai keluarga sebagai persoalan serius yang perlu diklarifikasi oleh aparat melalui penyelidikan berbasis bukti.

Tidak berhenti di situ, muncul pula informasi tambahan dari seorang perempuan yang disebut sebagai pembantu Andre dan pernah membantu di rumah Afifah selama sekitar enam hari.

Menurut keterangan yang disampaikan kepada pihak keluarga, perempuan tersebut menyebut bahwa Afifah sempat dikatakan jatuh di kamar mandi. Keterangan tersebut berbeda dengan versi bahwa Afifah mengalami kejadian setelah melompat dari mobil. Perbedaan cerita ini tentu belum dapat dijadikan dasar untuk menyimpulkan adanya tindak pidana, tetapi menjadi informasi penting yang menurut keluarga perlu diperiksa dan dikonfirmasi kepada pihak-pihak terkait.

Keluarga juga mempertanyakan kondisi jenazah ketika tiba di rumah duka. Terdapat informasi dari petugas rumah sakit yang mengantar jenazah, bahwa jenazah tidak perlu dimandikan kembali. Namun, pihak keluarga tetap meminta agar jenazah disucikan kembali. Saat kain kafan dibuka, keluarga mengaku melihat kondisi yang menurut mereka menimbulkan tanda tanya, diantaranya mata tampak bengkak, bibir mengalami luka atau pecah, terdapat dugaan cedera pada bagian pelipis, serta benjolan di bagian belakang kepala. Kondisi tersebut merupakan keterangan keluarga dan belum dapat disimpulkan sebagai akibat kekerasan tanpa pemeriksaan medis atau forensik resmi.

Kakek korban juga menuturkan, bahwa keluarga Afifah yang berdomisili di Dusun Rayap, Desa Kemuning Lor, Kecamatan Arjasa, Jember, tidak langsung mendapatkan informasi mengenai musibah yang dialami korban. Keluarga disebut baru menerima kabar pada sore hari ketika kondisi Afifah sudah sangat kritis. Pada Selasa malam menuju Rabu sekira pukul 20.00 WIB, kakek korban bertemu dengan sejumlah teman baiknya dan turut hadir Bhabinkamtibmas Desa Kemuning Lor. Setelah membahas sejumlah informasi dan petunjuk yang dimiliki keluarga, kakek korban kemudian didampingi Bhabinkamtibmas dan beberapa orang lainnya mendatangi Mapolres Jember untuk menyampaikan laporan serta meminta agar dugaan kematian tidak wajar tersebut ditindaklanjuti.

Keluarga menegaskan, bahwa mereka tidak ingin menuduh atau menghakimi pihak tertentu sebelum adanya hasil penyelidikan resmi. Mereka hanya meminta kebenaran diungkap secara terang, transparan, profesional dan berdasarkan alat bukti. Dengan munculnya beberapa versi mengenai penyebab dan lokasi kejadian, mulai dari disebut melompat dari mobil di tiga lokasi berbeda hingga muncul keterangan korban jatuh di kamar mandi, serta adanya kondisi jenazah yang menurut keluarga menimbulkan pertanyaan, pihak keluarga berharap Polres Jember segera melakukan penyelidikan secara menyeluruh.

Pemeriksaan terhadap suami, saksi, pihak rumah sakit, orang yang pertama menemukan korban, lokasi-lokasi yang disebutkan, kendaraan yang digunakan, rekam medis, serta bukti forensik dinilai penting untuk menjawab satu pertanyaan utama: apa yang sebenarnya terjadi pada Afifah sebelum akhirnya meninggal dunia? (Wesly).

Share this:

About srikaninews

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *