
GUNUNGSITOLI – Srikandinews.com. Narasi “persuasif dan santun” yang dilemparkan oleh salah seorang oknum panitia di salah satu Akun Facebook terkait insiden pengusiran warga pada perayaan HUT RI ke-81 di Alun-Alun Kota Gunungsitoli, Senin (17/8/2026), dibantah keras oleh saksi mata dan Aparatur Sipil Negara (ASN) di lokasi. Klarifikasi tertulis yang beredar di media sosial dinilai hanya pembelaan diri sepihak dan berbanding terbalik dengan arogansi yang terjadi di lapangan. Kamis (20/8/26).
Sebelumnya, oknum panitia berjas hitam mengklaim telah mengarahkan warga yang menduduki kursi undangan secara sopan. Namun, fakta dan kesaksian yang dihimpun awak media justru mengungkap drama pengusiran paksa yang dinilai mencederai nilai kemerdekaan rakyat.
Sanggahan Fakta 1: kursi yang di ambil sendiri dari tempat lain, Bukan Fasilitas Undangan
Dalam klarifikasinya, oknum panitia menyebut warga menduduki kursi khusus berlabel penerima penghargaan. Narasi ini dipatahkan langsung oleh protes keras salah satu ibu di lokasi kejadian.
“Mengapa tidak dari tadi kami dilarang duduk di sini? Lalu sekarang kami harus duduk di mana? Lagipula kursi yang saya duduki ini, saya sendiri yang ambil dari sana, bukan yang sudah disediakan di sini sejak awal!” bentak warga dengan nada kecewa mendalam.
Kenyataan bahwa warga membawa atau mengambil sendiri kursi plastik merah tersebut membuktikan bahwa panitia tidak sekadar “merapikan barisan undangan”, melainkan melakukan tindakan semena-mena terhadap hak masyarakat kecil yang ingin menyaksikan upacara bendera.
Sanggahan Fakta 2: Tindakan Arogan, Bukan Komunikasi Santun
Saksi mata di lokasi menyebutkan, oknum panitia tersebut datang dengan setelan jas hitam dan dasi merah, bertingkah over-akting layaknya Pasukan Pengaman Presiden (Paspampres). Alih-alih berkomunikasi dengan taktis dan solutif, kedatangannya langsung memicu ketegangan karena nada bicara dan tindakan yang dianggap mengintimidasi kaum ibu dan anak-anak.
Insiden ini bahkan memicu reaksi spontan dari seorang ASN berkacamata hitam yang berada tepat di samping kanan tribun. ASN tersebut terpaksa turun tangan menegur sang panitia demi menjaga agar kekhidmatan Detik-Detik Proklamasi tidak dirusak oleh aksi arogansi internal.
“Kenapa kau pindah-pindahkan masyarakat? Kenapa kau ganggu-ganggu mereka? Kau siapa? Panitia?” tegur ASN tersebut, merefleksikan kekesalan warga atas tindakan sewenang-wenang itu.
“Pemerintah Tidak Kekurangan Kursi”
Aksi pengusiran ini dinilai sangat ironis. Pada hari di mana kemerdekaan rakyat dirayakan, masyarakat justru diusir dari ruang publik oleh oknum yang merasa memiliki kuasa lebih.
Sikap tanggap ASN yang membela warga juga mempertegas sebuah kritik menohok bagi panitia: Pemerintah Kota Gunungsitoli tidak kekurangan kursi untuk sekadar memberikan ruang bagi rakyatnya sendiri.
“Selanjutnya, Saat dikonfirmasi wartawan mengenai insiden ketegangan di tribun kanan Alun-Alun Kota Gunungsitoli tersebut, Kabag Protokol Panitia oknum inisial FH tidak memberikan respons.”
Media ini telah berupaya meminta klarifikasi kepada Oknum Inisial (AH) selaku pihak panitia HUT Ke-81 mengenai insiden pengusiran warga dan keabsahan tanggapan di media sosial. Namun, hingga saat ini yang bersangkutan memilih bungkam dan tidak merespons pertanyaan wartawan
panitia ber jas hitam sudah di konfirmasi tidak di jawab.
Hingga berita ini diterbitkan, gelombang kecaman dari netizen dan masyarakat sipil terus mengalir di media sosial. Publik menilai permintaan maaf “rendah hati” yang disampaikan oknum panitia di akhir klarifikasinya hanyalah upaya menyelamatkan diri setelah videonya viral dan menuai sorotan tajam karena berpotensi memicu benih kebencian terhadap institusi negara.
✍️Penulis : Arius Mendrôfa✍️.
Srikandinews media online