Kepri,srikandinews.com Kasus rangkap jabatan yang telah terjadi dan secara sengaja dilakukan di salah satu petinggi dinegeri ini terutama provinsi Kepri akhir-akhir ini menjadi sorotan publik,,namun masyarakat dan pejabat enggan mau berkomentar karena itu haknya kepala daerah
Berbagai pertanyaan muncul mulai dari bagaimana ketentuan seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS) memiliki lebih dari satu jabatan hingga apakah perbuatan tersebut melanggar kode etik PNS?
Ombudsman RI pada tahun 2019, telah merilis mengungkapkan kasus rangkap jabatan yang di antaranya telah dilakukan oleh Aparatur Sipil Negara . Dari total 397 orang, 254 orang (64 persen) di antara nya yang berasal dari kementerian.
hingga di dipronvinsi kabupaten dan kota sudah terindikasi merangkap jabatan itu di lakukan karena haus kekuasaan seseorang gubernur.
Dalam ketentuan kepegawaian PNS, sebelumnya diatur mengenai rangkap jabatan dalam Pasal 98 Peraturan Pemerintah Nomor 11 Tahun 2017 menyatakan, Pejabat Fungsional (JF) dilarang rangkap jabatan dengan Jabatan Administrator (JA) dan Jabatan Pimpinan Tinggi (JPT).
Hal itu dikecualikan untuk JA atau JPT yang kompetensi dan bidang tugas jabatannya sama dan tidak dapat dipisahkan dengan kompetensi dan bidang tugas JF.
Namun, setelah peraturan tersebut diubah menjadi Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2020, ketentuan mengenai rangkap jabatan tidak lagi diatur.
Hal itu kecuali jika tercantum dalam peraturan khusus masing-masing instansi yang ditempati oleh PNS.
Apabila seorang PNS terbukti melanggar ketentuan peraturan khusus dalam instansi, maka ia dinyatakan telah bertindak melanggar etika sebagaimana tercantum dalam Pasal 8 Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2004. Bunyinya, bahwa PNS memiliki etika dalam bernegara yang meliputi โmenaati semua peraturan perundang-undangan yang berlaku dalam melaksanakan tugasโ.
Lalu bagaimana jika di kedua instansi PNS tersebut tidak memiliki aturan khusus mengenai rangkap jabatan?
Yang tidak kalah penting adalah bagaimana seorang PNS memegang asas profesionalitas yang kemudian diterjemahkan ke dalam Nilai Dasar ASN yaitu โmenjalankan tugas secara profesional dan tidak berpihakโ. Dalam kondisi PNS rangkap jabatan, maka perlu dipertanyakan bagaimana konsistensi dirinya untuk tetap bersikap profesional.
Bukan tidak mungkin akan terjadi Conflict of Interest (CoI) dalam menjalankan tugasnya, apalagi jika jabatan yang ditempati merupakan jabatan strategis dan memiliki kewenangan dalam pengambilan keputusan.
Adanya CoI ini juga merupakan salah satu tindakan yang melanggar asas netralitas dalam pengambilan keputusan.
Dalam posisi inilah etika seorang PNS dipertanyakan dan perlu dipertanggungjawabkan, karena sudah selayaknya seorang PNS yang memiliki fungsi sebagai pelayan publik bersikap profesional dan netral.
PNS yang terbukti tidak profesional dan tidak netral dalam menjalankan tugasnya dapat dinyatakan melanggar kode etik dan tentu dapat dikatakan sebagai PNS yang tidak beretika.
Hal ini lah yang di lakukan oleh gubernur Kepri Ansar Ahmad, yang telah melantik Hasan selaku PJ walikota Tanjungpinang sedangkan HAsan masih tercatat sebagai kepala dinas Kominfo Kepri.
Namun menurut sekda kota Tanjungpinang Zulhidayat, bahwa untuk rangkap jabatan yang ada sekarang Tidak Ada Masalah ungkapnya lewat pesan singkat pada media ini Ia sampai kan 28/9.berbagai sumber
Srikandinews media online